PROPOSAL PENELITIAN
PENDIDIKAN
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR EFEKTIF
SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SIMULASI KELAS X C SMA ISLAM Al HIKMAH MAYONG
Disusun
untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Penelitian Pendidikan
Dosen
pengampu Dr. Santoso, M.Pd., Kons
Disusun Oleh:
Ega Mei Ratmi (201431006)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN
DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITASMURIA KUDUS
TAHUN AJARAN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Dalam keseluruhan
proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling
pokok. Artinya berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung
kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai peserta didik.
Apabila peserta didik tidak memiliki kemampuan belajar yang efektif maka hasil
belajar yang diperoleh tidak akan bisa optimal. Belajar merupakan proses
manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap.
Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Kemampuan manusia untuk
belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk
hidup lainnya. Belajar mempunyai keuntungan, baik bagi individu maupun bagi
masyarakat. Bagi individu, kemampuan untuk belajar secara terus-menerus akan
memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi
masyarakat, belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisi budaya dan
pengetahuan dari generasi ke generasi. Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan
atau pengalaman-pengalaman. Dengan demikian, belajar membawa perubahan bagi si
pelaku. Baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.
Belajar adalah
suatu kegiatan yang kita lakukan untuk memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan.
Dalam belajar, kita tidak bisa melepaskan diri dari beberapa hal yang dapat
mengantarkan kita berhasil dalam belajar. Banyak orang yang belajar dengan
susah payah, tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa hanya kegagalan yang
ditemui. Penyebabnya tidak lain karena belajar tidak teratur, tidak disiplin,
dan kurang semangat, tidak tahu bagaimana cara berkonsentrasi dalam belajar,
mengabaikan masalah pengaturan waktu dalam belajar, kurangnya kemampuan belajar
secara Efektif, dan tidak adanya motivasi dalam diri individu
tersebut. SMA ISLAM Al HIKMAH MAYONG.
Efektif
adalah perubahan yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu.
Pembelajaran yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada
pemberdayaan siswa secara aktif. Pembelajaran menekankan pada penguasaan
pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, tetapi lebih menekankan pada
internalisasi, tentang apa yang dikerjakan sehingga tertanam dan berfungsi
sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktekkan dalam kehidupan oleh siswa.
Dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran efektif merupakan sebuah proses perubahan
seseorang dalam tingkah laku dari hasil pembelajaran yang ia dapatkan dari
pengalaman dirinya dan dari lingkungannya yang membawa pengaruh, makna dan
manfaat tertentu.
Akan
tetapi di era globalisasi ini para peserta didik mengalami kesulitan dalam
Belajar efektif dikarenakan jenuh dalam belajarnya, karena pergaulan, motivasi
belajar yang rendah, kesehatan fisik, kompetensi/kemampuan yang dimiliki
peserta didik, fasilitas yang dimiliki, jarang masuk sekolah, tidak
tertarik pada mata pelajaran tersebut dan sebagainya. Berdasarkan
observasi dan wawancara dengan guru pembimbing di SMA ISLAM Al HIKMAH MAYONG
diperoleh data bahwa siswa kelas X SMA ISLAM Al HIKMAH MAYONG mempunyai
masalah belajar efektif yang kurang, hal
ini di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain: kurang persiapan belajar,
siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar lebih giat lagi, kurang bisa
mengatur Strategi Belajar yang Efektif dan Efisien, sehingga
menyebabkan siswa kurang bisa belajar secara efektif di SMA ISLAM AL HIKMAH MAYONG.
Upaya yang
dilakukan oleh pihak sekolah di SMA ISLAM AL HIKMAH MAYONG melalui peran guru
pembimbing dalam membantu sisiwa untuk mengubah dan mengembangkan belajar Efektif yang masih rendah pada siswa,
kebanyakan hanya dengan menggunakan layanan konseling individual. Upaya
tersebut kurang mendapat hasil optimal, karena layanan konseling individual itu
dilakukan secara perseorangan sehingga tidak efektif diberikan kepada siswa
yang jumlahnya cukup banyak. Kegiatan bimbingan kelompok juga belum
dilaksanakan secara intensif oleh guru pembimbing di SMA ISLAM AL HIKMAH
MAYONG. Hal itu disebabkan karena kurangya waktu, sehingga pelaksanaan kegiatan
bimbingan kelompok yang belum bisa dilaksanakan dengan baik oleh guru
pembimbing.
Kegiatan
bimbingan kelompok tersebut cukup efektif membantu siswa untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi, khususnya dalam meningkatkan dan mengembangkan belajar
yang efektif. Dimana dalam kegiatan layanan bimbingan
kelompok, aktivitas dan dinamika kelompok harus diwujudkan untuk membahas
berbagai hal yang berguna bagi pengembangan atau pemecahan masalah individu
yang menjadi peserta layanan. Dinamika kelompok merupakan jiwa yang
menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok. Dinamika kelompok ini dimanfaatkan
untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling kelompok. Manfaat yang bisa
diperoleh konseli dalam melakukan kegiatan bimbingan kelompok antara lain:
meningkatkan persaudaraan antara anggota-anggotanya, melatih keberanian konseli
dalam berbicara di depan orang banyak dalam menanggapi permasalahan yang
dialami anggota kelompok yang lain, serta melatih keberanian konseli untuk
mengemukakan masalahnya. Hasil yang bisa diperoleh dari kegiatan bimbingan
kelompok adalah konseli lebih mampu memahami diri dan lingkungannya, dan dapat
mengembangkan diri secara optimal untuk kesejahteraan diri dan kesejahteraan
masyarakat. Untuk meningkatkan kemampuan belajar efektif peserta didik. Dengan
bimbingan kelompok diharapkan peserta didik dapat saling bertukar pikiran dan
mengemukakan pendapat yang dimilikinya.
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan diatas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ” Upaya
Meningkatkan Kemampuan
Belajar Efektif Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Simulasi
Kelas X C SMA
Islam Al Hikmah Mayong Tahun 2016-2017”.
1.2. Perumusan
Masalah
masalah dalam penelitian ini adalah sejauh
manakah kemampuan belajar efektif siswa
melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi pada siswa kelas X
SMA Islam Al Hikmah Mayong Tahun Pelajaran 2016-2017?
1.3 Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan belajar efektif siswa
melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi pada siswa kelas X
SMA Islam Al Hikmah Mayong Tahun Pelajaran 2016-2017.
1.4 Manfaat
Penelitian
1.4.1
Kegunaan
Teoritis
Penelitian ini dapat menambah wawasan bagi kepala sekolah, para konselor, guru atau pihak yang terkait
tentang peranan Layanan Bimbingan Kelompok dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar
efektif siswa. Memperluas kajian
teoritis bahwa layanan bimbingan kelompok teknik simulasi merupakan model bimbingan kelompok yang tepat
untuk meningkatkan kemampuan belajar efektif siswa.
1.4.2
Kegunaan
Praktis
Hasil penelitian diharapkan mempunyai kegunaan sebagai
berikut:
1.4.2.1 Bagi Sekolah
Dapat digunakan sebagai
acuan kebijakan tentang pentingnya pelaksanaan layanan bimbingan konseling,
untuk membantu meningkatkan
kemampuan belajar efektif.
1.4.2.2
Konselor/guru
Bagi
konselor/guru pembimbing dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam
memberi layanan tentang bimbingan
kelompok untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan belajar Efektif dengan teknik
simulasi di SMA
ISLAM Al HIKMAH MAYONG TAHUN 2016-2017.
1.4.2.3
Siswa
Siswa
dapat meningkatkan kemampuan belajar efektif, sehingga siswa dapat belajar
dengan baik.
1.4.2.4.
Peneliti
Dari hasil penelitian
ini dapat digunakan oleh peneliti dalam membantu siswa yang mengalami masalah kemampuan belajar dan dapat dijadikan
sebagai bahan acuan untuk memberikan pengarahan kepada siswa tentang belajar efektif melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik simulasi.
1.5 Definisi
Operasional
Sesuai dengan judul
penelitian “upaya meningkatkan kemampuan belajar
efektif siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik simulasi pada
siswa kelas X SMA Islam Al Hikmah Mayong Tahun Pelajaran 2016-2017”, maka definisi operasionalnya dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1.5.1
Belajar
Belajar adalah
sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut
ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku
seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman,
ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.
1.5.2 Efektif
Efektif adalah perubahan yang membawa
pengaruh, makna dan manfaat tertentu. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan
sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif. Pembelajaran
menekankan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, tetapi
lebih menekankan pada internalisasi, tentang apa yang dikerjakan sehingga
tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktekkan
dalam kehidupan oleh siswa.
1.5.3 Bimbingan
Kelompok
bimbingan
kelompok merupakan salah satu bentuk bimbingan yang dilakukan melalui media
kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang bertujuan untuk menggali
dan mengembangkan diri dan potensi yang dimiliki individu. Dalam kelompok ini
semua peserta bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain
sebagainya; topik yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta
lainnya. Bimbingan kelompok sangat tepat bagi kelompok remaja karena memberikan
kesempatan untuk menyampaikan gagasan, perasaan, permasalahan, melepas
keragu-raguan diri, dan pada kenyataannya mereka akan senang berbagi pengalaman
dan keluhan-keluhan pada teman sebayanya.
1.5.4
Teknik Simulasi
Metode
simulasi merupakan salah satu metode mengajar yang dapat digunakan dalam
pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung
objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar
yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada
kelas tinggi di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran, siswa akan dibina
kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam
kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran
beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Kajian
Teori
2.1.1. Belajar
Efektif
2.1.1.1
Pengertian
Belajar
Belajar merupakan
kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap
jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang
paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
Belajar adalah
proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai
yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan
yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah,
di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan
dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.
Sebagai tindakan maka Belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi
atau tidak terjadinya proses belajar.
Menurut Arsyad (2001: 3) mengemukakan bahwa “belajar adalah
perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati.
Dengan kata lain perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil
yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati”.
Menurut
Slameto (2003: 5) menyatakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkunganya”.
Menurut
Aunurrahman (2010: 35) menyimpulkan bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar
yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan
dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
untuk memperoleh tujuan tertentu”. Dengan demikian dapat disimpulkan Belajar
adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan
itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak.
Penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian
kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
2.1.1.2. Pengertian Efektif
Sebelum mempelajari pembelajaran
efekif, terlebih dahulu kita pelajari pengertian dari efektif. Efektif berasal
dari bahasa Inggris yaitu kata ”effective” yang dapat diartikan
mempunyai efek (akibat, pengaruh, kesan) atau dapat pula diartikan membawa
hasil, berhasil guna. Selain itu efektif tidak hanya diorientasikan pada hasil
tetapi juga proses yang ada dalam mencapai tujuan.
Sehingga dapat disimpulkan
pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang berorientasi pada program
pembelajaran berkenaan dengan usaha mempengaruhi, memberi efek, yang dapat
membawa hasil sesuai dengan tujuan maupun proses yang ada di dalam
pembelajaran itu sendiri.
Pembelajaran dikatakan efektif
apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen, berfungsi secara keseluruhan,
peserta merasa tenang, puas dengan hasil pembelajaran, membawa kesan, sarana
dan prasarana yang memadai serta materi, metode dan media yang sesuai serta
guru yang professional.
Juga keberhasilan proses
pembelajaran banyak tertumpu pada sikap dan cara belajar siswa, baik perorangan
maupun kelompok, selain itu, tersedianya sumber belajar dengan memanfaatkan
media pembelajaran dengan tepat merupakan faktor pendorong dan pemeliharaan
kegiatan belajar siswa yang produktif, efektif dan efisien.
2.1.1.3
Persiapan Belajar
Persiapan sebelum kita belajar, yaitu:
2.1.1.3.1
Berdoalah sebelum belajar.
2.1.1.3.2
Murnikan niat. Jadikan menuntut ilmu sebagai ibadah.
2.1.1.3.3
Hilangkanlah kata “akan” dari hidup anda, dan jangan menunda-nunda.
2.1.1.3.4
Waspadalah dengan sugesti-sugesti yang negative, seperti, “aku
gagal”, atau, “pelajaran yang sulit”.
2.1.1.3.5
Harus yakin diri sendiri, kalo kita bisa.
2.1.1.3.6
Percayalah tentang pentingnya ilmu dan mempelajarinya.
2.1.1.3.7
Waspadalah dengan teman yang kurang baik dan membuang-buang waktu.
2.1.1.3.8
Aturlah buku tulis dan belajar.
2.1.1.3.9
Kerjakan pekerjaan rumah dan ulangilah setiap hari.
2.1.1.3.10
Makanlah makanan yang sehat, dan jauhi makanan instant.
2.1.1.3.11
Jangan pernah belajar di saat merasa lelah.
2.1.1.3.12
Ikuti program pembelajaran disekolah dengan baik.
2.1.1.3.13
Buat jadwal belajar mulai sekarang, dan fokuslah pada satu hal.
2.1.1.3.14
Belajar kelompok, bahas soal saling bantu.
2.1.1.3.15
Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
2.1.1.3.16
Silent HP agar konsentrasi belajar tidak terganggu.
2.1.1.3.17
Kalau bisa, jangan belajar sambil tiduran diatas kasur, tujuannya
agar tidak gampang ngantuk karena bersandar pada bantal.
2.1.1.3.18
Jangan ragu bertanya pada teman, guru, atau siapa saja yang lebih
mengerti tentang materi yang anda pelajari.
2.1.1.4
Strategi Belajar yang Efektif dan Efisien
Cara belajar efektif adalah cara belajar yang
sesuai dengan kondisi personal pembelajar, baik dari segi metode, penggunaan
tempat, ataupun penggunaan waktu. Sedangkan belajar efisien adalah cara belajar
yang meminimalkan usaha tetapi mendapatkan hasil yang maksimal. Yang diminimalkan
disini juga berupa waktu, tempat, sarana dan prasarana belajar dan lain-lain.
Biasanya seseorang belajar tidak terlalu lama, tetapi sangat menguasai materi
tersebut, karena orang tersebut kemungkinan mempunyai cara efisien dalam
belajar, selain metode yang mereka gunakan dalam belajar. Yang perlu diingat
disini adalah, tidak ada orang pintar atau bodoh dalam belajar, yang ada
hanyalah orang malas, dan tak tahu cara belajar yang baik.
Dibawah ini adalah cara belajar yang efektif
dan efisien:
2.1.1.4.1
Jangan paksa belajar pada
satu kegiatan
Bagi warga belajar yang istiqomah (rutin)
belajar, ia akan meluangkan waktu setiap hari meskipun sebentar untuk mengulang
pelajaran, latihan atau sekedar membaca materi pokok pelajaran. Kebiasaan ini
sangat baik, jika dilakukan setiap hari. Hal itu, lebih baik ketimbang belajar
satu sesi menjelang ujian, atau semester. seperti kata pepatah: “Sedikit demi
sedikit lama-lama menjadi bukit.”
2.1.1.4.2
Saat mau belajar memiliki rencana
Rencana belajar maksudnya adalah memiliki
jadwal-jadwal belajar di luar sekolah. Buatlah jadwal belajar harian, mingguan
jam demi jam. Lalu usahakan dengan tegas, dan tepati semua jadwal yang kamu
buat. Bagi warga belajar yang tidak teratur, biasanya tidak sebagus yang
memiliki rencana dan rutin belajar.
2.1.1.4.3
Memiliki tujuan khusus di setiap kegiatan belajar
Tujuan khusus dalam setiap sesi belajar itu maksudnya
agar saat mau belajar sudah siap mau menyelesaikan problem apa, atau hendak
memahami sesuatu yang dicari.
2.1.1.4.4
Sekali-kali jangan menunda belajar
Kebanyakan pelajar ada yang suka dan tidak suka
dalam mata pelajaran. Dampaknya, jika kamu tidak suka dengan pelajaran tersebut
akan mudah menunda belajar, dan lebih memilih kegiatan lain.
Murid yang berhasil, biasanya tidak pernah
menunda sesi belajar meski sibuk sekalipun. Jika kamu melakukan penundaan, maka
masalah akan bertumpuk-tumpuk dan ini menjadi penyebab kegagalan dalam belajar.
Jadi, sekali-kali jangan menunda belajar!
2.1.1.4.5
Dahulukan Pelajaran yang Paling Sulit
Karena pelajaran yang sulit butuh konsentrasi
tinggi, usaha dan mental pelajar, maka dahulukan dan jadikan perhatian yang
utama.jika dimulai dengan yang sulit-sulit, percaya atau tidak, ini akan
mengantarkan kamu menjadi pelajar yang meningkat dan sangat akan sangat efektif
bagi kelangsungan pembelajaran .
2.1.1.4.6
Gangguan selama belajar jangan biarkan ada
Hal yang bisa menenangkan itu perlu dicari. Karena
itu, carilah tempat belajar yang aman dari gangguan. Sebab, saat kamu
terganggu, maka ini akan mengganggu konsentrasi belajar dan ini sungguh
mengganggu belajar kamu.
2.1.1.4.7
Ikuti belajar kelompok yang efektif
belajar kelompok dengan efektif akan membawa banyak
keuntungan. Seperti mendapat bantuan teman, menyelesaikan tugas dengan cepat,
memahami konsep dengan tepat dan bisa berbagi pengetahuan dengan teman-teman
lainnya. Masih ingatkah pepatah, “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala?”.
Jadi, gunakan pepatah ini untuk belajar. Lalu mana kelompok belajar yang tidak
efektif? yaitu mereka yang minim dari persiapan dan strategi belajar.
2.1.1.4.8
Hindari Belajar Berlebih
sesuatu yang berlebihan tidaklah bagus, begitu
juga dalam belajar, seperti jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya
kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh
pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang
atau membuat contekan.Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena
jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan,
terutama bagi anak-anak.
2.1.1.4.9
Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan
soal ulangan atau ujian, karena dengan mencontek dapat membuat sifat kita
curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi
terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk
menutupi kebohongan selanjutnya.
2.1.1.4.10
Disiplin dalam Belajar
Kedisiplinan memang perlu diterapkan dalam belajar,
seperti disiplin waktu dan disiplin dalam berkonsentrasi pada pelajaran. Dengan
adaya sifat disiplin dalam diri, dapat dipastikan pelajaran yang dilakukan
dapat efektif dan efisien.
2.1.1.4.11
Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Ada pepatah Malu bertanya sesat di jalan,
ternyata pepatah ini benar, terlebih jika dalam pelajaran. Jika ada hal yang
belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita
bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah
secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya.
2.1.1.4.12
Belajar dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa
yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada
di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca
kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hafalkan sambil dimengerti. Jika
sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan
soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban.
Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
2.1.1.5
Gaya Belajar Efektif
a)
Gaya Belajar Visual
Gaya
Belajar dengan cara melihat, membayangkan dan memperhatikan (bersih, cantik,
jelek besar, jernih dll)
b)
Gaya Belajar Audio
Gaya
belajar dengan cara mendengar (nada,irama,suasana heboh,suasana gaduh dll)
c) Gaya
Belajar Kinesthetic
Gaya
belajar dengan cara bergerak, merasa, menyentuh, menggengam, menangkap, menekan
(dingin, kasar, tebal, tipis dll)
2.1.1.6
Karakteristik Belajar yang Efektif
Pembelajaran
dapat efektif apabila mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai
dengan indikator pencapaian. Untuk mengetahui bagaimana memperoleh hasil yang
efektif dalam proses pembelajaran, maka sangat penting untuk mengetahui ciri-cirinya.
Adapun Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:
2.1.1.6.1 Belajar
secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan
mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara
fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
2.1.1.6.2 Metode
yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas menjadi
hidup.
2.1.1.6.3 Motivasi
guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang guru akan
mendorong siswa untuk giat dalam belajar.
2.1.1.6.4 Suasana
demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling
menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan
kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
2.1.1.6.5 Pelajaran
di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
2.1.1.6.6 Interaksi
belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri,
sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih
percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
2.1.1.6.7 Pemberian
remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor
penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika
diperlukan
Selain
mengetahui karakteristik belajar yang efektif perlu diketahui juga bagaimana
Karakteristik Guru Efektif, hal ini berguna untuk mengetahui keahlian dan
keprofesionalan seorang pendidik dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif.
Adapun karakteristknya yaitu:
1) Memiliki
minat terhadap mata pelajaran
2) Memiliki
kecakapan untuk menafsirkan suasana/iklim psikologis siswa
3) Menumbuhkan
semangat belajar
4) Memiliki
imajinasi dalam menjelaskan
5) Menguasai
metode/strategi pembelajaran
6) Memiliki
sikap terbuka terhadap siswa.
2.1.2.
Layanan
Bimbingan Kelompok
2.1.2.1
Pengertian Bimbingan Kelompok
Menurut
Romlah (2001: 3) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu
teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai
perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta
nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan
kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan
mengembangkan potensi siswa.
Menurut
(Sukardi, 2003: 48) Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan
siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama
guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai
individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
Menurut Wibowo (2005: 17)
menyatakan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana
pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar
anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota
kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Dari
beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh
sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi
saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya,
dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar
dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
2.1.2.2
Tujuan Bimbingan Kelompok.
Kesuksesan
layanan bimbingan kelompok sangat dipengaruhi oleh sejauh mana keberhasilan
tujuan yang akan dicapai dalam layanan bimbingan kelompok yang diselenggarakan.
Adapun tujuan bimbingan kelompok Menurut pendapat Romlah (2003: 14-15) bahwa
tujuan bimbingan kelompok adalah memberikan kesempatan-kesempatan pada siswa
belajar hal-hal penting yang berguna bagi pengarahan dirinya yang berkaitan
dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial, memberikan
layanan-layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok, untuk mencapai
tujuan-tujuan bimbingan secara lebih ekonomis dan efektif dari pada melalui
kegiatan bimbingan individual, serta untuk melaksanakan layanan konseling
individual secara lebih efektif.
Dengan adanya
kegiatan bimbingan kelompok memungkinkan kepada individu untuk bisa melatih
diri dan mengembangkan dirinya dalam memahami dirinya sendiri, orang lain dan
lingkungannya. Adanya interaksi dan dinamika kelompok yang hidup, memberikan
stimulus dan dukungan kepada anggota kelompok untuk bisa mewujudkan
kemampuannya dalam hubungan dengan orang lain, melatih diri untuk berbicara di
depan teman-temannya dalam ruang lingkup yang berkelompok, memahami dirinya
dalam membina sikap yang responsibel dan perilaku yang normatif. Dengan
demikian bimbingan kelompok ini mempunyai tujuan yang praktis dan dinamis dalam
mewujudkan minat belajar dalam setiap individu.
2.1.2.3
Asas Bimbingan Kelompok
Asas-asas
yang ada dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya adalah sebagai berikut :
2.1.2.3.1 Asas
kerahasiaan
Para
anggota harus menyimpan dan merahasiakan informasi apa yang dibahas dalam
kelompok, terutama hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain
2.1.2.3.2 Asas
keterbukaan
Para
anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat,ide, saran, tentang apa saja
yang yang dirasakan dan dipikirkannya tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
2.1.2.3.3 Asas
kesukarelaan
Semua anggota
dapat menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau dipaksa oleh teman lain
atau pemimpin kelompok
2.1.2.3.4 Asas
kenormatifan
Semua
yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan
norma-norma dan kebiasaan yang berlaku.
2.1.2.4
Komponen-Komponen Bimbingan Kelompok.
Komponen-komponen
yang ada
dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya terdapat pemimpin kelompok dan
anggota kelompok.
2.1.2.4.1 Pemimpin
kelompok
Pemimpin
kelompok memiliki peran penting dalam rangka membawa para anggotanya menuju
suasana yang mendukung tercapainya tujuan bimbingan kelompok. peranan pemimpin
kelompok yaitu:
Pemimpin
kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur tangan langsung
terhadap kegiatan kelompok. Campur tangan
ini meliputi, baik hal-hal yang bersifat isi dari yang dibicarakan maupun yang mengenai
proses kegiatan itu sendiri. Pemimpin
kelompok memusatkan perhatian pada suasana yang berkembang dalam kelompok itu,
baik perasaan anggota-anggota tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin
kelompok dapat menanyakan suasanan perasaan yang dialami itu. Jika kelompok itu
tampaknya kurang menjurus kearah yang dimaksudkan maka pemimpin kelompok perlu
memberikan arah yang dimaksudkan itu. Pemimpin kelompok juga perlu memberikan
tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik
yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok. Lebih jauh lagi,
pemimpin kelompok juga diharapkan mampu mengatur “lalu lintas” kegiatan
kelompok, pemegang aturan permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong
kerja sama serta suasana kebersamaan. Disamping itu pemimpin kelompok,
diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok
itu tidak merusak ataupun menyakiti satu orang atau lebih anggota kelompok
sehingga ia / mereka itu menderita karenanya. Sifat kerahasiaan dari
kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di
dalamnya, juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.
2.1.2.4.2 Anggota
kelompok
Kegiatan
layanan bimbingan kelompok sebagian besar juga didasarkan atas peranan para
anggotanya. Peranan kelompok tidak akan terwujud tanpa keikutsertaan secara
aktif para anggota kelompok tersebut. Karena dapat dikatakan bahwa anggota
kelompok merupakan badan dan jiwa kelompok tersebut. Agar dinamika kelompok
selalu berkembang, maka peranan yang dimainkan para anggota kelompok adalah:
1. Membantu
terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antara anggota kelompok.
2. Mencurahkan
segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
3. Berusaha
agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
4. Membantu
tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
5. Benar-benar
berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
6. Mampu
berkomunikasi secara terbuka.
7. Berusaha
membantu anggota lain.
8. Memberi
kesempatan anggota lain untuk juga menjalankan peranannya.
9. Menyadari
pentingnya kegiatan kelompok itu.
2.1.2.5
Tahap-tahap Kegiatan Bimbingan Kelompok
Suatu
proses layanan sangat ditentukan pada tahapan-tahapan yang harus dilalui
sehingga akan terarah, runtut, dan tepat pada sasaran. Dari awal sampai akhir sehingga
diharapkan tidak ada kesalahan dalam proses pemberian Layanan Bimbingan
Kelompok. Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok ada empat tahapan,
yaitu:
2.1.2.5.1 Tahap
I Pembentukan
Tahap
ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri
ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota
saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun
harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun
seluruh anggota. Memberikan penjelasan tentang bimbingan kelompok sehingga
masing-masing anggota akan tahu apa arti dari bimbingan kelompok dan mengapa
bimbingan kelompok harus dilaksanakan serta menjelaskan aturan main yang akan
diterapkan dalam bimbingan kelompok ini. Jika ada masalah dalam proses
pelaksanaannya, mereka akan mengerti bagaimana cara menyelesaikannya. Asas kerahasiaan
juga disampaikan kepada seluruh anggota agar orang lain tidak mengetahui
permasalahan yang terjadi pada mereka.
2.1.2.5.2
Tahap II Peralihan
Tahap
kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan ketiga. Ada kalanya
jembatan ditempuh dengan amat mudah dan lancar, artinya para anggota kelompok
dapat segera memasuki kegiatan tahap ketiga dengan penuh kemauan dan
kesukarelaan. Ada kalanya juga jembatan itu ditempuh dengan susah payah,
artinya para anggota kelompok enggan memasuki tahap kegiatan keompok yang sebenarnya,
yaitu tahap ketiga. Dalam keadaan seperti ini pemimpin kelompok, dengan gaya
kepemimpinannya yang khas, membawa para anggota meniti jembatan itu dengan
selamat.
Adapun yang dilaksanakan dalam tahap ini
yaitu:
1) Menjelaskan
kegiaatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya;
2) menawarkan
atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap
selanjutnya.
3) membahas
suasana yang terjadi.
4) meningkatkan
kemampuan keikutsertaan anggota.
5) Bila
perlu kembali kepada beberapa aspek tahap pertama.
2.1.2.5.3 Tahap
III Kegiatan
Tahap
ini merupakan inti dari kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi
dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat
perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok. ada beberapa yang harus
dilakukan oleh pemimpin dalam tahap ini, yaitu sebagai pengatur proses kegiatan
yang sabar dan terbuka, aktif akan tetapi tidak banyak bicara, dan memberikan
dorongan dan penguatan serta penuh empati.
Tahap ini ada berbagai
kegiatan yang dilaksanakan, yaitu:
1) Masing-masing
anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan.
2) Menetapkan
masalah atau topik yang akan dibahas terlebih dahulu
3) Anggota
membahas masing-masing topik secara mendalam dan tuntas.
4) Kegiatan
selingan.
Kegiatan
tersebut dilakukan dengan tujuan agar dapat terungkapnya masalah atau topik
yang dirasakan, dipikirkan dan dialami oleh anggota kelompok. Selain itu dapat
terbahasnya masalah yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas serta ikut
sertanya seluruh anggota secara aktif dan dinamis dalam pembahasan baik yang
menyangkut unsur tingkah laku, pemikiran ataupun perasaan.
2.1.2.5.4 Tahap
IV Pengakhiran
Pada saat
kelompok memasuki tahap pengakhiran, kegiatan kelompok sebaiknya dipusatkan
pada pembahasan tentang apakah anggota kelompok akan mampu menerapkan hal-hal
yang telah dipelajari pada kehidupan anggota sehari-hari.
Selama tahap
akhir kelompok akan muncul sedikit kecemasan dan kesedihan terhadap kenyataan
perpisahan. Para anggota memutuskan tindakan-tindakan apa yang harus mereka
ambil. Tugas utama yang di hadapi para anggota selama tahap akhir yaitu
mentransfer apa yang telah mereka pelajari dalam kelompok ke dunia luar.
Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini, adalah: pemimpin
kelompok menyatakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, pemimpin dan anggota
kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan, membahas kegiatan
lanjutan, mengemukakan pesan dan harapan.
Peranan pemimpin
kelompok adalah tetap mengusahakan suasana yang hangat, memberikan pernyataan
dan mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggoat serta memberi semangat
untuk kegiatan lebih lanjut dengan penuh rasa persahabatan dan simpati, di
samping itu fungsi pemimpin kelompok pada tahap ini adalah memperjelas arti
dari tiap pengalaman yang diperoleh melalui kelompok dan mengajak para anggota
untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari serta menekankan kembali akan
pentingnya pemeliharaan hubungan antar anggota setelah kelompok berakhir.
Setelah
semua tahap di atas telah terlaksana, kemudian diadakan evaluasi dan follow
up. Follow up dapat dilaksanakan secara kelompok maupun secara
individu. Pada kegiatan tindak lanjut ini para anggota kelompok dapat
membicarakan tentang upaya-upaya yang telah ditempuh. Mereka dapat melaporkan
tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui, berbagai kesuka citaan dan
keberhasilan dalam kelompok. Para anggota kelompok menyampaikan tentang
pengalaman mereka dan hasilnya selama mengikuti kegiatan bimbingan kelompok
dalam kehidupan sehari-hari.
Pemimpin kelompok
dapat mengadakan evaluasi dengan memberikan pertanyaan atau wawancara dengan
batas tertentu dan dilihat apakah anggota sudah dapat menguasai topik yang
dibicarakan atau belum. Hal tersebut dapat memberi gambaran akan keberhasilan
kegiatan kelompok.
2.1.3 Teknik Simulasi
2.1.3.1 Pengertian Metode Simulasi
Metode
Simulasi merupakan salah satu metode mengajar yang dapat digunakan dalam
pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung
objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar
yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada
kelas tinggi di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran, siswa akan dibina
kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam
kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran
beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.1.3.2
Jenis-jenis Simulasi
Ada beberapa jenis model simulasi di
antaranya, yaitu:
2.1.3.2.1 Bermain
peran (role playing)
Dalam proses
pembelajarannya metode ini mengutamakan pola permainan dalam bentuk
dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh kelompok siswa dengan mekanisme
pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk melaksanakan kegiatan yang telah
ditentukan/direncanakan sebelumnya.
Simulasi ini lebih menitik beratkan pada tujuan untuk mengingat atau
menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi pada masa
yang akan datang atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi kehidupan
sekarang.
2.1.3.2.2 Sosiodrama
Dalam
pembelajarannya yang dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas belajar
memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk
sosial. Misalnya, hubungan anak dan orang tua,
antara siswa dengan teman kelompoknya.
2.1.3.2.3 Permainan
simulasi (Simulasi games)
Dalam
pembelajarannya siswa bermain peran sesuai dengan peran yang ditugaskan sebagai
belajar membuat suatu
keputusan.
2.1.3.3 Karakteristik
Metode Simulasi
Metode
mengajar simulasi banyak digunakan pada pembelajaran IPS, PKn, Pendidikan
Agama, dan Pendidikan Apresiasi. Pembinaan kemampuan bekerjasama, komunikasi
dan interaksi merupakan bagian dari keterampilan yang akan
dihasilkan melalui pembelajaran
simulasi. Metode mengajar simulasi lebih banyak menuntut aktivitas siswa
sehingga metode simulasi sebagai metode yang berlandaskan pada pendekatan CBSA
dan keterampilan proses.
Disamping
itu, metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis konstektual, salah
satu contoh bahan pembelajaran dapat diangkat dari kehidupan sosial,
nilai-nilai sosial maupun permasalahan-permasalahan sosial yang aktual maupun
masa lalu untuk masa yang akan datang. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan
dengan nilai-nilai kehidupan sosial maupun membentuk sikap atau perilaku dapat
dilakukan melalui pembelajaran ini.
Langsung
maupun tidak langsung melalui simulasi kemampuan siswa yang berkaitan dengan
bermain peran dapat dikembangkan. Siswa akan menguasai konsep dan keterampilan
intelektual, sosial, dan motorik dalam bidang-bidang yang dipelajarinya serta
mampu belajar melalui situasi tiruan dengan sistem umpan balik dan
penyempurnaan yang berkelanjutan.
2.1.3.4 Prosedur
Prosedur
metode simulasi yang harus ditempuh dalam pembalajaran adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan topik simulasi
yang diarahkan oleh guru
2. Menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan
dibahas
3. Simulasi diawali dengan
petunjuk dari guru tentang prosedur, teknik, dan peran yang
dimainkan
4.
Prosedur
pengamatan terhadap proses, peran, teknik, dan prosedur dapat dilakukan dengan
diskusi.
5.
Kesimpulan dan saran dari kegiatan simulasi
2.1.3.5 Langkah-langkah
simulasi
Langkah-langkah yang perlu
ditempuh dalam melaksanakan simulasi ialah:
1. Menentukan
topik serta tujuan yang ingin dicapai
2. Memberikan
gambaran tentang situasi yang akan disimulasikan
3. Membentuk
kelompok dan menentukan peran masing-masing
4. Menetapkan
lokasi dan waktu pelaksanaan simulasi
5. Melaksanakan
simulasi
6. Melakukan
penilaian
2.1.3.6 Prasyarat
yang Mengoptimalkan Pembelajaran Simulasi
Untuk
menunjang efektivitas penggunaan metode simulasi perlu dipersiapkan kemampuan
guru maupun kondisi siswa yang
optimal. Dibawah ini dijelaskan tentang kemampuan guru dan kondisi siswa guna
mendukung efektivitas metode simulasi dalam pembelajaran.
Kemampuan
guru yang harus diperhatikan untuk menunjang metode simulasi di antaranya:
1. Mampu
membimbing siswa dalam mengarahkan teknik, prosedur, dan peran yang akan
dilakukan dalam simulasi.
2. Mampu
memberikan ilustrasi
3. Mampu
menguasai pesan yang dimaksud dalam simulasi tersebut.
4. Mampu
mengamati secara proses simulasi yang dilakukan oleh siswa
Adapun kondisi
dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan dalam penerapan metode simulasi
adalah:
1. Kondisi,
minat, perhatian dan motivasi siswa dalam bersimulasi
2. Pemahaman
terhadap pesan yang akan menstimulasikan
3. Kemampuan
dasar berkomunikasi dan berperan
2.2
Kerangka
Berfikir
Dalam bimbingan
kelompok ini klien yang di hadapi bukanlah bersifat individual tetapi terdiri
dari beberapa orang yang akan bersama-sama memanfaatkan dinamika kelompok untuk
membahas topik/permasalahan dan belajar untuk lebih meningkatkan kemampuan
belajar yang efektif. Dengan adanya hubungan yang interaktif tersebut anggota
kelompok akan merasa lebih mudah dan leluasa karena anggotanya merupakan teman
sebaya mereka sendiri. Selain itu dengan melakukan bimbingan kelompok yang memanfaatkan
dinamika kelompok ini, siswa juga belajar untuk memahami dan mengendalikan diri
sendiri, memahami orang lain, saling bertukar pendapat tentang belajar efektif.
Fenomena ini dapat dimaknai sebagai petunjuk yang mengandung implikasi bahwa
interaksi dan dinamika yang tumbuh dalam bimbingan kelompok diharapkan dapat
digunakan untuk meningkatkan kemampuan belajar efektif siswa.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara bimbingan kelompok dan belajar
efektif adalah bimbingan kelompok merupakan faktor eksternal dari belajar
efektif. Tujuan bimbingan kelompok tersebut secara umum adalah untuk
meningkatkan belajar efektif. Apabila bimbingan kelompok ini menurut persepsi
siswa bermanfaat, maka bimbingan kelompok yang diberikan diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajar efektif siswa.
2.3
Hipotesis.
Dengan memberikan layanan Bimbingan Kelompok
kepada peserta didik diharapkan mampu meningkatkan kemampuan belajar dengan
efektif .
Berdasarkan asumsi di atas maka penelitian
ini menggunakan hipotesis penelitian sebagai berikut “Layanan Bimbingan
Kelompok dapat Meningkatkan kemampuan belajar efektif siswa kelas X SMA Islam Al Hikmah
Mayong Tahun Pelajaran 2016-2017 dalam belajar.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas sebagai suatu pencermatan terhadap
kegiatan pembelajaran berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan
terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. PTK yang merupakan suatu kegiatan
ilmiah terdiri dari Penelitian-Tindakan-Kelas.
1.
Penelitian
merupakan kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan aturan metodologi
untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu
suatu hal yang menarik minat dan penting bagi si peneliti.
2.
Tindakan
merupakan suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu
yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3.
Kelas
merupakan sekelompok peserta didik yang sama dan menerima pelajaran yang sama dari
seorang pendidik.
Penelitian ini menggunakan PTK (penelitian
tindakan kelas).Menurut Rachman Natawidjaja (dalam sukiman 2011: 77) PTK adalah
pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan
kontekstual, yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka
pemecahan masalah yang dihadapi, atau memperbaiki sesuatu.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar
efektif siswa yaitu menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan
pendekatan tersebut maka hasil penelitian berupa gambaran dengan menggunakan
deskripsi kata-kata.
3.2 Setting Penelitian
3.2.1
Lokasi
dan Subjek Penelitian
1. Lokasi :
SMA Islam Al Hikmah Mayong
2. Subjek Penelitian :
Semua kelas X C.
3.2.2.
Waktu Penelitian : Rencana bulan
Maret-Mei 2017
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan langkah dalam penelitian untuk
mendapatkan data yang relevan dan objektif agar dapat digunakan sebagai bahan
analisa untuk mencapai tujuan penelitian, untuk itu maka dibutuhkan metode yang
tepat, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
3.3.1
Metode Observasi
Menurut Suharsimi (2010: 199) observasi merupakan suatu penyelidikan yang
dijalankan secara sistematis dan sengaja dengan alat indera terutama mata
terhadap kejadian yang langsung ditangkap pada waktu kejadian terjadi.
Metode ini digunakan untuk mengamati kemampuan belajar efektif peserta
didik kelas X C SMA Islam Al Hikmah
Mayong .
3.3.2
Metode Dokumentasi
Menurut Suharsimi (2010: 201) Metode dokumentasi adalah metode yang
digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,
agenda, dan sebagainya. Metode dokumentasi dipergunakan untuk mendapatkan
data-data tertulis, seperti: nilai mata pelajaran, daftar nama peserta didik
dan daftar-daftar lainnya.
3.3.3
Metode Wawancara
Metode ini digunakan untuk menggali informasi secara
lisan tentang pelaksanaan layanan bimbingan kelompok terhadap kemampuan belajar
efektif peserta didik kelas X C SMA Islam Al Hikmah Mayong.
3.4 Prosedur Penelitian
Dalam upaya meningkatkan
kemampuan meningkatkan kemampuan
belajar efektif siswa melalui layanan bimbingan kelompok yaitu menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan pendekatan kualitatif maka hasil penelitian
berupa gambaran dengan menggunakan deskripsi kata-kata.
Menurut Arikunto, Suhardjono, Supardi (2008: 16) prosedur
peneltian tindakan kelas terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan
berkesinambungan yang meliputi:
1.
Perencanaan
tindakan (planning)
2.
Pelaksanaan
tindakan (action)
3.
Pengamatan
tindakan(observation)
4.
Refleksi
terhadap tindakan (reflection)
3.4.1
Siklus I
3.4.1.1 Perencanaan
Perencanaan
dalam tahap ini peneliti berkolaborasi dengan konselor sekolah menentukan
rencana tindakan PTBK. Adapun rencana penelitian tersebut:
1)
Menyusun satuan layanan dan materi layanan Bimbingan
Kelompok
Adapun materi yang akan dibahas dalam
penelitian ini sebagai berikut:
No
|
Siklus
|
Pertemuan
|
Materi
|
Waktu
|
1.
|
Siklus
I
|
Pertemuan
1
|
Pengertian Belajar,
pengertian Efektif.
|
45
menit
|
Pertemuan
2
|
Cara Mempersiapkan Belajar
|
45
menit
|
||
Pertemuan
3
|
Strategi belajar
yang Efektif dan Efisien.
|
45
menit
|
||
2.
|
Siklus
II
|
Pertemuan
1
|
Gaya belajar efektif
|
45
menit
|
Pertemuan
2
|
Karakteristik belajar yang efektif
|
45
menit
|
2)
Menentukan waktu dan tempat layanan bimbingan
kelompok
3)
Menyusun pedoman observasi
4)
Mempersiapkan alat yang akan digunakan
Perencanaan dalam penelitian tindakan
bimbingan dan konseling ini dilakukan dari persiapan memberi motivasi melalui
ceramah, diskusi, dan Tanya jawab dan menyusun instrument penelitian tindakan
bimbingan dan konseling yang berupa lembar observasi dan menyiapkan
dokumentasi, serta menyusun rencana layanan bimbingan kelompok yang akan
digunakan.
3.4.1.2
Pelaksanaan
Tindakan
Pada penelitian tindakan
bimbingan dan konseling ini, langkah kedua yang dilakukan adalah melalui tahap
tindakan.Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh peneliti yang bertindak
sebagai konselor berupaya memperbaiki atau mengadakan perubahan. Pada tahap ini berarti peneliti melakukan
tindakan dalam proses pemberian layanan Bimbingan Kelompok.
Peneliti melakukan proses layanan bimbingan
kelompok. Tindakan ini dilaksanakan dalam tahap sebagai berikut:
1.
Menginformasikan tentang meningkatkan
kemampuan belajar efektif melalui bimbingan kelompok
2.
Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya
atau berpendapat mengenai layanan tersebut.
3.4.1.3 Observasi
Observasi atau pengamatan adalah mengamati kegiatan siswa
selama kegiatan berlangsung.
Observasi dilaksanakan oleh peneliti dan kolaborator.
Adapun pelaksanaannya yaitu:
1.
Kolaborator mengamati pelaksanaan layanan bimbingan kelompok yang dilakukan oleh peneliti.
2.
Peneliti dan kolaborator mengamati siswa selama mengikuti layanan bimbingan kelompok.
3.
Peneliti dan kolaborator mengamati situasi dan kondisi siswa anggota
kelompok yang mengikuti layanan bimbingan kelompok.
3.4.1.4
Refleksi
Langkah
terakhir penelitian tindakan bimbingan dan konseling pada siklus I ini yaitu
tahap refleksi.Refleksi merupakan tindakan yang dilakukan peneliti untuk
mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan. Berdasarkan
hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan refisi terhadap rencana
selanjutnya atau rencana awal siklus II.
3.4.2 Siklus II
3.4.2.1
Perencanaan
Pada siklus II ini, perencanaan didasarkan temuan hasil
siklus I. Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah (1) membuat
perbaikan rencana memberi layanan bimbingan kelompok dan (2) menyusun instrument penelitian
tindakan bimbingan dan konseling yaitu lembar observasi dan dokumentasi sebagai
hasil penilaian siklus II.
3.4.2.2
Tindakan
1. Menanyakan
kepada siswa sejauh mana tingkat pengetahuannya tentang belajar efektif dan
layanan bimbingan kelompok selama ini.
2. Mengevaluasi
kembali tentang peningkatan kemampuan belajar efektif siswa sejauh ini.
3. Memberikan
motivasi tentang belajar efektif yang positif di dalam diri siswa.
4. Menyimpulkan
hasil yang telah di capai dalam meningkatkan kemampuan belajar efektif siswa
melalui layanan bimbingan kelompok.
3.4.2.3
Observasi
Observasi pada siklus II Kegiatan
pengamatan dilakukan secara kolaborasi
dengan guru.Fokus pengamatan masih tetap seperti siklus I yakni aktivitas
siswa, guru dan interaksinya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan semua
alat pengumpulan data dan untuk melihat urutan kegiatan, apa yang terjadi
selama proses pembelajaran.
3.4.2.4
Refleksi
Pada siklus II ini,
refleksi dilakukan untuk mengetahui hasil layanan informasi pada siklus I.
tujuan refleksi ini adalah untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah di
capai selama pemberian layanan bimbingan kelompok
dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang masih muncul. Kemajuan yang dicapai
pada siklus II adalah gaya belajar efektif
dan karakteristik belajar efektif. dan selanjutnya peneliti
menyimpulkan bahwa penelitian tindakan bimbingan dan konseling telah berhasil,
karena hasil yang di capai telah sesuai harapan.
3.5 Analisi Data
Analisis data adalah proses
mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan
uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan.
Menurut
Nasir (2005: 346) menyatakan bahwa Analisis merupakan bagian yang teramat penting dalam
penelitian, karena dengan analisis data tersebut dapat diberi arti dan makna
yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian.
Sukiman (2011: 155) menyatakan bahwa tahapan dalam analisis
data antara lain: reduksi data, paparan
data dan kesimpulan.
3.5.1 Reduksi data, adalah proses
penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokan dan
pengorganisasian data mentah menjadi informasi bermakna. Dan/atau informasi
yang relevan terkait dengan pelaksanaan PTK BK yang di olah untuk bahan
evaluasi.
3.5.2 Interprestasi
data,
merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam
bentuk paparan naratif, tabel, grafik, atau perwujudan lainnya yang dapat
memberikan gambaran jelas tentang proses dan hasil dari tindakan layanan BK
yang dilakukan guru pembimbing dan peneliti.
3.5.3 Penyimpulan, merupakan pengambilan intisari
dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau
kalimat singkat, padat dan bermakna.
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, ada dua
jenis data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti, yaitu:
1. Data kuantitatif yang dapat dianalisis secara
deskriptif. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik secara deskriptif,
yaitu mencari nilai rata-rata kemampuan belajar efektif siswa, persentase
kesulitan yang dihadapi siswa dalam menghadapi pelajaran. Untuk mencari nilai
rata-rata belajar efektif siswa peneliti menggunakan rumus mean yang ditimbang yaitu mean yang
memperhitungkan frekuensi tiap-tiap nilai variabel, dengan rumus sebagai
berikut:
Keterangan:
M
=mean
f =
frekuensi siswa dalam suatu kategori
X = nilai kemampuan belajar efektif siswa
N =
jumlah siswa keseluruhan
|
Keterangan:
P =
persentase
f = frekuensi siswa dalam suatu kategori
N =
jumlah siswa keseluruhan
2.
Adapun
analisis data kualitatif yang diperoleh berdasarkan hasil observasi dan
wawancara yang dapat dianalisis secara deskriptif. Datanya berbentuk kategori/
kualitatif yang dianalisis dengan deskriptif kualitatif berdasarkan hasil
observasi dan refleksi dari kondisi awal siklus I dan siklus II.
Kurangnya kemampuan belajar efektif siswa pada
kondisi awal didapat dari keadaan siswa saat sebelum dilaksanakan tindakan,
yang diperoleh berdasarkan dari hasil observasi, wawancara, dan data
dokumentasi siswa selama di lingkungan sekolah SMA Islam Al Hikmah Mayong. Pada siklus I layanan bimbingan
kelompok
membahas tentang pengertian belajar efektif dan pengertian efektif persiapan
belajar. kemampuan dalam persiapan belajar maka pada siklus I dilakukan kegiatan
layanan bimbingan selama selama 2 kali pertemuan. Berdasarkan 2 kali kegiatan layanan bimbingan
kelompok tersebut
hasil siklus I dilakukan refleksi.
Hasil analisis
terhadap kemampuan belajar efektif siswa sebagai indikator untuk
mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan ini, dianalisis oleh peneliti dan
kolaborator yang dijadikan sebagai acuan tindakan atau langkah berikutnya.
3.6 Rencana Penelitian
Adapun waktu rencana penelitian
dimulai Maret sampai Mei 2017.
Tabel 3.1 Rincian dan jadwal
kegiatan PTK
No.
|
Kegiatan
|
Bulan
Kegiatan
|
|||||||||||
Maret
|
April
|
Mei
|
|||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
A.
|
Persiapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Identifikasi masalah
|
|
V
|
V
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Menyusun proposal
|
|
|
|
V
|
V
|
V
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pengembangan model layanan orientasi
|
|
|
|
|
|
|
V
|
|
|
|
|
|
4.
|
Menyusun instrument
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
|
|
|
|
B.
|
Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Menyiapkan subjek pengembangan dan alat
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
|
|
|
|
2.
|
Pelaksanaan model pengembangan layanan Bimbingan kelompok
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
V
|
V
|
3.
|
Penilaian dan perbaikan
|
|
|
|
|
|
|
V
|
V
|
V
|
|
|
|
4.
|
Tindak lanjut
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
V
|
V
|
C.
|
Penyusunan
Laporan/Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Menyusun laporan
|
|
|
|
|
|
|
V
|
V
|
V
|
|
|
|
2.
|
Revisi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
|
3.
|
Penggandaan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
4.
|
Pengiriman laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
V
|
DAFTAR PUSTAKA
Djiwandono, Sri Esti Wuryani,
Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT
Grasindo, 2002).
Santrock, John W., educational Psychology, Terj.Tri wibowo B.S, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Prenada
Media Group, 2008)
Prayitno,
Dasar teori dan praksis Pendidikan
(Jakarta: Grasindo, 2009)
Hamalik,
Oemar. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Syafaruddin dan Irwan
Nasution, Manajemen Pembelajaran,
(Jakarta : Penerbit Quantum Teachin).
Raisahadila, 2003, Belajar
Efektif dan Efisien. Tersedia dalam [online], https://www.raisahadila.wordpress.com/belajar-efektif-dan-efisien.htm, diakses tanggal
14 Oktober 2013.
Arsyad, A. 2011.
Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali
Pers.
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit.
wandi, 2003, pengertian
Belajar Menurut Ahli. Tersedia dalam [online], https://www.whandi.net/2007/05/16/pengertian-belajar-menurut-ahli.htm, diakses tanggal
21 Oktober 2012.
Wibowo,
Mungin Edi. 2005. “Konseling
Kelompok Perkembangan”. Semarang: UNNES Press.
0 komentar:
Posting Komentar